Jumat, 11 Agustus 2017

PERPPU menghalau Strategi Pemberontak Bertopeng Ayat

Penggunaan ayat suci sebagai topeng untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah, sudah terjadi pada pemerintahan khilafah Islamiyah, zaman khulafaur rasyidin. Lihat pada sejarah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Provokasi dilakukan dengan menggunakan ayat-ayat Qur'an. Seperti tercatat oleh para ahli sejarah Islam, ketika khalifah Utsman mengeluarkan kebijakan membuat ladang khusus untuk unta-unta sedekah yang terlarang unt umum, para oposan ini menentang dengan menggunakan QS. Yunus 59 sebagai alat legitimasi.

Berlagak sebagai pembela Islam dan penegak ayat suci mereka mengatakan pada khalifah Utsman : "Engkau membuat tanah terlarang yang dibatasi. Apakah engkau telah mendapatkan izin dari Allah untuk melakukan hal ini? Engkau telah melakukan tindakan yang mengada ada terhadap hal yang tidak ditentukan Allah."

Khalifah Utsmanpun menjawab: "ayat tersebut diturunkan dalam konteks yang lain, bukan dalam masalah seperti ini. Umar bin Khatthab sudah melakukan hal ini sebelumnya. Dia membatasi tanah khusus untuk unta-unta zakat lalu aku menambahnya untuk unta sedekah yang semakin banyak".

Para oposan yang sudah menggunakan STRATEGI ... merekayasa teks untuk melawan kekuasaan ini tidak dapat menerima penjelasan yang diberikan oleh khalifah Utsman. Mereka terus mengobarkan permusuhan dengan kata JIHAD dan memfitnah pada pemerintah yang sah dengan mengobral ayat-ayat Qur'an, meski pemerintahan sudah berbentuk khilafah. Fitnah dan provokasi ini berujung pada pembunuhan khalifah Utsman.

Hal yang sama juga terjadi pada khalifah Ali bin Abi Thalib. Pemahaman keagamaan yang tekstual buta telah menimbulkan sikap keras pada diri Ibn Muljam, sehingga menganggap sayyidina Ali sebagai orang kafir yang layak dibunuh karena tidak menjalankan hukum Islam.

Pemahaman ibn Muljam ini berdasar pada ayat; "barangsiapa yang tidak menggunakan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah (qur'an/syari'at Islam), maka mereka itulah orang-orang kafir" (QS al-Maidah: 44). Kemudian dia mengutip QS Al-Baqarah, 207: "Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridlaan Allah, dan Allah maha penyantun pada hambaNya".

Tindakan ini menjadi cikal bakal tidak kekerasan yang dilakukan oleh kaum RADIKAL dan INTOLERAN. Mereka menggunakan ayat-ayat suci untuk makar dengan cara melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok lain yang tidak sepaham dengan perkataan yang tidak sepaham adalah KAFIR.

Tindakan ini terus berulang dalam sejarah Islam hingga saat ini. Perusak AGAMA dengan cara memanipulasi ayat ini harus dikendalikan. Pemahaman keagamaan secara tekstual buta dengan gaya Rdikal dan Intoleran ini terus menggerogoti pemikiran dan kesadaran umat Islam.

Karena hal inilah yang merupakan mesin CUCI OTAK itu ... terutama dilakukan pada Manusia yang berpikiran DANGKAL. Seperti halnya melawan pemahaman tekstual buta yang intoleran dan penuh kekerasan diperlukan daya tahan diri yang kokoh melalui penanaman ideologi Islam yang rahmatan lil'alamin.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengaji dari tataran tingkat ... SYARIAT, TAREKAT, HAKEKAT dan MA’RIFAT. Secara historis ayat-ayat dan Simbol agama Dijadikan ALAT dengan CARA MEMANIPULASI dan diajdikan TOPENG untuk memenuhi AMBISI POLITIK yang dilakukan dengan KEKERASAN untuk merebut KEKUASAAN.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang MAJEMUK, tindakan antisipasi dengan membuat PERPPU adalah merupakan langkah yang STRATEGIS untuk membendung STRATEGI TOPENG AYAT ini. Karena Paham RADIKAL dan INTOLERAN yang penuh dengan tindakan kekerasan ini tidak saja mengancam kebhinnekaan tetapi juga HAK ASASI MANUSIA.

Tindakan tegas perlu dilakukan sebelum bangsa ini hancur terjebak dalam KONFLIK yang tidak terkendali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Suara LBH - JAYA NUSANTARA ...

 LBH "JAYA NUSANTARA" Mengucapkan :  ...  Mantab Broo  ...  TRIO Advokat UNAIR'83 ... Memang Tiada Duanya  ...  Yang SELALU BE...